SEJARAH
SASTRA
(Sejarah Perkembangan Novel di Indonesia)
Nurul
Hikmah (11140130000024)
Berbicara mengenai
sejarah sastra Indonesia tentu harus mengetahui terlebih dahulu pengertian
sastra Indonesia itu sendiri. Sastra Indonesia secara sederhana dapat dikatakan
sebagai sastra berbahasa Indonesia, sedangkan hasilnya adalah sekian banyak
karya sastra seperti puisi, cerita pendek, novel, roman, dan naskah drama
berbahasa Indonesia. Definisi tersebut akan tetapi masih mengandung perdebatan
dengan pendapat yang menyatakan bahwa sastra Indonesia adalah keseluruhan
sastra yang berkembang di Indonesia. Oleh karenanya dibuat kesepakatan untuk
merumuskan istilah tersebut agar memiliki makna yang jelas dalam konteks
pengkajiannya. Yudiyono dalam bukunya mengatakan sebagai berikut.
Dari berbagai buku, seperti
Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Rosidi 1969), Novel Sastra Indonesia Sebelum
perang (Damono 1970), dan Sastra Baru Indonesia
(Teeuw 1980), dapat dirumuskan bahwa sastra Indonesia berarti sastra
(kesusasteraan) berbahasa Indonesia yang sejarah pertumbuhannya di mulai pada
awal abad 20.[1]
Terkait istilah sastra
Indonesia maka tidak terlepas dari kata sejarah. Sejarah sendiri adalah hal
yang sulit untuk dipahami. Meskipun terdapat banyak sumber yang membahas
mengenai sejarah, namun hal itu tetap saja sulit karena dalam mempelajari
sejarah memerlukan konsentrasi dan ketelitian penuh agar bisa memahami setiap
perjalanannya.
Dalam mengerti Sejarah sastra
(Gottschalk, 1975) dijelaskan panjang lebar pengertian sejarah (history) yang berasal dari kata benda
Yunanai istoria berarti ‘ilmu’....
Kini history berarti masa lampau umat
manusia.[2]
Kutipan di atas menjelaskan bahwa sejarah
adalah kejadian/peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Itulah sebabnya
menyajikan sejarah sama halnya dengan upaya menyampaikan apa yang terjadi di
masa lampau. Berikut ini merupakan pengertian sejarah menurut beberapa ahli.
“Luxemburg
dalam Rosida Erowati dan Ahmad Bahtiar menyatakan bahwa sejarah sastra ialah
ilmu yang membahas periode-periode kesusastraan, aliran-aliran, jenis-jenis,
pengarang-pengarang dan reaksi pembaca. Sedangkan menurut Zulfanur Z.F. dan
Sayuti Kurnia, sejarah sastra ialah ilmu yang mempelajari perkembangan sejarah
suatu bangsa daerah, kebudayaan, jenis karya sastra, dan lain-lain”.[3]
Berdasarkan
pendapat dari beberapa ahli yang telah dikutip di atas, penulis menyimpulkan
bahwa sejarah sastra merupakan bagian dari ilmu sastra yang mempelajari
pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa dari masa ke masa dengan
segala permasalahannya, misal sejarah sastra Indonesia, sejarah sastra Jawa,
dan sejarah sastra Inggris. Objek kajiannya pun tidak hanya pengarang dengan
karya-karya puncak pada setiap kurun waktu, melainkan juga segala permasalahan/peristiwa
yang terjadi pada rentang masa pertumbuhan dan perkembangan suatu bangsa.
Dengan demikian, sejarah sastra tidak hanya menyangkut pengarang dan karya
sastranya saja, melainkan juga penerbit, pengajaran, kritik dan lain-lainnya.[4]
Karya
sastra merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat, dengan kata lain sumber lahirnya
karya sastra adalah kehidupan masyarakat setempat. Berdasarkan hal tersebut
tersirat pengertian bahwa pengkajian suatu karya sastra didasarkan atas sejarah
perkembangan masyarakat tertentu.
Menulis
karya sastra tidak hanya memberikan kenikmatan dan kepuasan batin, tetapi juga
sebagai sarana penyampaian pesan moral kepada masyarakat atas realitas sosial.
Melalui karya sastra pengarang dapat dengan bebas berbicara tentang kehidupan
yang dialami oleh manusia dengan berbagai peraturan dan norma-norma dalam
interaksinya dengan lingkungan sehingga dalam karya sastra terdapat makna
tertentu tentang kehidupan. Karya sastra juga dapat dijadikan sebagai
pengalaman untuk berkarya, karena siapa pun bisa menuangkan isi hati dan
pikiran dalam tulisan yang bernilai seni.
Karya
sastra yang diciptakan pengarang, tentunya tidak terlepas dari sejarah sastra
yang mempengaruhi perkembangan karya sastra di Indonesia. Cakupan sejarah
sastra meliputi sejarah perkembangan puisi, sejarah perkembangan prosa, sejarah
perkembangan drama, dan lain sebagainya. Salah satu bentuk “susastra” sebagai
penuangan ide kreatif pengarang adalah novel. Pada kesempatan ini, penulis akan
membahas mengenai sejarah perkembangan dan pertumbuhan novel.
Perkembangan
sastra Indonesia tidak terlepas dari periodisasi sastra yang lahir dari
imajinasi-imajinasi pengarang sebagai bentuk momentum terhadap suatu kejadian
yang terjadi pada masanya. Periodisasi sastra dikelompokkan atas kurun waktu
yang berjangka sehingga karya sastra yang lahir dikelompokkan menurut pembabakan/periode
yang berlaku pada masanya. Namun, sebelum masuk pada sejarah perkembangan
novel, penulis akan lebih dahulu memaparkan mengenai pengertian novel.
Novel adalah salah
satu bentuk karya sastra. Novel merupakan karya sastra yang yang tergolong
dalam prosa. Dunia
kesastraan mengenal prosa (Inggirs: prose)
sebagai salah satu genre sastra di samping genre yang lain.[5]
Burhan Nurgiyantoro Abrams dalam bukunya berpendapat sebagai berikut.
Novel berasal dari bahasa Italia novella (yang dalam bahasa Jerman: novelle). Secara harfiah novella berarti ‘sebuah barang baru yang
kecil’, dan kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’. Dewasa
ini, istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama
dengan istilah Indonesia ‘novelet’ (Inggris novelette),
yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu
panjang, namun juga tidak terlalu pendek.[6]
Novel sebagai karya fiksi
dibangun atas unsur-unsur pembangun cerita yang terkandung di dalamnya. Novel
dibangun atas dua unsur yakni unsur intrinsik dan ekstrinsik. Novel memiliki
unsur intrinsik seperti peristiwa, plot, tema, tokoh, latar, sudut pandang, dan
lain sebagainya. Novel memiliki panjang cerita yang berbeda dari cerpen. Oleh
karenanya, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu
secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan
berbagai permasalahan yang kompleks.
Kelebihan novel yang khas
adalah kemampuannya dalam menyampaikan permasalahan yang lebih kompleks, mengkreasikan
sebuah dunia yang ‘jadi’. Hal itu berarti membaca novel menjadi lebih mudah dari
membaca cerpen. Membaca novel lebih mudah karena tidak menuntut kita memahami
masalah yang kompleks dalam bentuk (dan waktu) yang sedikit.[7]
Sebagaimana merurut Burhan dalam bukunya.
Novel bersifat realistis. Novel
berkembang dari bentuk-bentuk naratif nonfiksi, misalnya surat, biografi, atau
sejarah. Jadi, novel berkembang dari dokumen-dokumen, dan secara lebih
realistis. Novel merupakan gambaran angan dengan tokoh yang lebih bersifat
introver dan subjektif, di pihak lain novel juga lebih mencerminkan gambaran
tokoh nyata, tokoh yang berangkat dari realitas sosial.[8]
Membaca novel, bagi sebagian
besar orang hanya untuk menikmati cerita yang disuguhkan. Mereka hanya akan
mendapat kesan secara umum dan samar tentang plot dan bagian cerita tertentu
yang menarik. Membaca novel yang kelewat panjang akan memaksa pembaca untuk
senantiasa mengingat kembali cerita yang telah dibaca sebelumnya. Pemahaman
keseluruhan cerita dalam novel menjadi terputus-putus karena harus mengingat
sedikit demi sedikit per-episode. Apalagi untuk mengingat hubungan antar episode,
tidak akan segera dapat dikenali walaupun secara teori tiap episode harusnya
mencerminkan tentang tema cerita (memiliki kaitan yang saling mengikat antar episodenya).[9] Istilah
episode dalam fiksi hampir sama dengan adegan dalam drama. Pergeseran dari satu
episode ke episode lainnya biasa ditandai oleh pergeseran waktu, tempat, atau
karakter-karakter.
Banyak orang mengira
bahwa cara termudah untuk memahami dunia novel adalah dengan bertanya kepada
pengarangnya. Kenyataannya, pandangan ini malah gagal ketika dipraktikkan.
Kebanyakan pengarang akan menolak ketika diminta menjelaskan karya mereka
secara medalam atau mungkin novel tersebut justru menjelaskan banyak hal lebih
dari perkiraan si pengarang sendiri. Hanry James dalam Burhan mengatakan sebagai
berikut.
“...yang terbaik dari sebuah karya
seni hadir melalui kecerdasan pembuatnya.”[10]
Novel dalam dunia sastra
dibedakan dalam kategori serius atau popular. Perbedaan tersebut dapat terlihat
apabila (1) Novel diterbitkan oleh penerbit yang dikenal sebagai penerbit
buku-buku kesusasteraan, maka tanpa membaca isinya pun, mungkin sekali orang
dapat langsung menilai bahwa novel tersebut bernilai sastra yang tinggi. (2)
Novel ditulis oleh orang yang telah terkenal sebagai penulis sastra serius.
Maka begitu muncul karyanya yang baru, tanpa membaca isinya pun mungkin orang
sudah mengelompokkan ke dalam karya sastra serius.
Seseorang dapat saja
membedakan antara novel serius dengan novel popular. Namun adanya perbedaan
tersebut tetap saja tidak jelas/kabur, karena tidak adanya batasan yang jelas.
Ciri-ciri dalam novel serius yang biasanya dipertentangkan dalam novel popular
sering juga ditemukan pada novel-novel popular. Demikian pula sebaliknya.[11]
Dengan demikian, antara novel popular dan novel serius tidak dapat dibedakan secara
jelas karena tidak adanya batasan dalam klasifikasi tersebut.
Novel popular adalah
novel yang pada masanya memiliki banyak penggemar, khususnya oleh pembaca
dikalangan remaja. Novel popular menampilkan masalah-masalah yang aktual dan
selalu menzaman, namun hanya sampai pada tingkat permukaan. Novel popular tidak
menampilkan permasalahan kehidupan secara lebih intens, tidak berusaha meresapi
hakikat kehidupan. Sebab jika demikian, maka novel popular akan menjadi berat
dan berubah menjadi novel serius dan boleh jadi akan ditinggalkan oleh
pembacanya.
Novel popular bersifat
artisifial/hanya sementara, cepat tertinggal zaman, tidak memaksa orang untuk
membaca berulangkali. Novel semacam ini biasanya cepat dilupakan orang, apalagi
dengan munculnya novel-novel baru yang lebih popular pada masa sesudahnya. Burhan Nurgiyantoro Abrams berpendapat bahwa:
Novel popular adalah perekam
kehidupan sesaat dan tidak banyak memperbincangkan kehidupan dalam serba
kemungkinan. Novel popular menyajikan kembali rekaman-rekaman kehidupan dengan
harapan pembaca akan mengenali kembali pengalaman-pengalamannya sehingga merasa
terhibur karena seseorang telah menceritakan pengalamannya itu.sastra popular
akan setia memantulkan kembali emosi-emosi asli. Oleh karenanya, sastra popular
yang banyak mengundang pembaca untuk mengidentifikasikan dirinya.[12]
Novel popular lebih mudah
dibaca dan lebih mudah dinikmati karena memang semata-mata hanya ingin
menyampaikan cerita. Masalah yang diceritakanpun ringan tetapi aktual dan
menarik, yang terlihat hanya cerita itu-itu saja yaitu cinta asmara (barangkali
dengan berbau porno) dengan model kehidupan yang bersuasana mewah. Kisah
percintaan antara pria tampan dengan wanita cantik secara umum tetap menarik,
mampu membuai pembaca remaja yang memang sedang mengalami masanya, dan
barangkali dapat untuk sejenak melupakan kepahitan hidup yang dialaminya secara
nyata. Oleh karenanya, novel popular lebih mengejar selera pembaca, dan tidak
menceritakan sesuatu yang bersifat serius.
Novel serius di pihak
lain justru harus sanggup memberikan
yang serba kemungkinan, dan itulah sebenarnya makna sastra yang sastra,
hal tersebut sesuai dengan hakekat kebenaran dalam cerita sebagaimana yang
dikemukan yaitu kebenaran dan kemungkinan. Membaca novel serius jika ingin
dapat memahaminya dengan baik, maka diperlukan daya konsentrasi yang tinggi dan
disertai kemauan untuk itu. Pengalaman dan permasalahan kehidupan yang
ditampilan dalam novel serius dijelaskan dan diungkapkan sampai pada inti kehidupan
yag bersifat menyeluruh.
Novel serius, disamping
memberikan hiburan juga terselip tujuan yang dapat memberikan pengalaman yang
berharga kepada pembaca, atau paling tidak mengajak pembaca untuk meresapi dan
merenungkan secara lebih dalam permasalahan yang dihadirkan.
Hakikat kehidupan dalam novel serius tetap bertahan
sepanjang masa dan tidak pernah ketinggalan zaman. Itulah sebabnya, novel
serius tetap menarik sepanjang masa dan tetap menarik untuk dibicarakan.
Contohnya pada novel Hamlet, Romeo dan
Juliet, dan lain-lain karya Shakespeare, Madame Bovary karya Gustave Flaubert, dan yang lebih tua lagi La Divina Commedia karya Dante.
Karya-karya tersebut adalah sejumlah contoh karya yang tetap menarik untuk di
baca dan dibicarakan sampai sekarang. Contoh karya sastra Indonesia seperti, Belenggu, Atheis, Jalan Tak Ada Ujung,
atau karya Mahabarata dan Ramayana.[13]
Sejarah
sastra Indonesia dalam mengurutkan periodesasinya menggunakan
istilah “periode” dan bukan “angkatan”, hal ini dikarena “angkatan” dalam sastra
Indonesia sekarang telah menimbulkan berbagai kekacauan.[14] Karya sastra dan pengarangnya
dikelompokkan berdasarkan periode ‘tahun’ yang tentu saja memiliki
karakteristik berbeda dengan periode lainnya. Berikut pengelompokkan periode
sastra tersebut:
a.
Periode 1850 – 1933
Novel
atau roman Indonesia mulai berkembang sejak tahun 1920-an. Pada saat itu,
perkembangan kesusasteraan Indonesia Modern tidak dapat dipisahkan dari
keberadaan Balai Pustaka. Balai pustaka sendiri pada awalnya adalah Komisi
untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat yang didirikan pada tahun 1908.
Komisi ini dimaksudkan untuk memerangi bacaan liar pada awal abad 20-an. Hampir
semua novel-novel awal yang diterbitkan Balai Pustaka senantiasa memunculkan
tokoh dewa penolong yang merupakan tokoh Belanda, sedangkan pemimpin lokal
seperti kepala desa, pemuka agama digambarkan sebagai tokoh yang kejam, tidak
adil, dan tukang menikah.[15]
Pada periode ini, karya
yang banyak ditulis adalah mempersoalkan masalah adat terutama masalah kawin
paksa, permaduan, pertentangan kaum tua dengan kaum muda yang menginginkan
kemajuan sesuai paham kehidupan modern, dan berlatar daerah. Berikut merupakan
beberapa karya-karya yang diterbitkan pada periode ini.
Novel pertama yang
diterbitkan Balai Pustaka adalah novel Azab
dan Sengsara karya Merani Siregar pada tahun 1920 yang memunculkan tokoh
Baginda di atas sebagai kepala kampung yang terkenal dermawan tiba-tiba
bertindak tidak adil dengan memutuskan hubungan cinta anaknya Aminudin dan
Mariamin. Terlepas dari kemungkinan terbaca atau tidak, novel Azab dan Sengsara telah dikenal sebagian
besar siswa SMA karena berbagai buku pelajaran kesuasateraan selalu
disebut-sebut sebagai awal tradisi novel Indonesia terbitan Balai Pustaka tahun
1920-an. Azab dan Sengsara merupakan
produk penerbitan Balai Pustaka dengan misi mendidik masyarakat sebagaimana
dikehendaki pemerintah kolonial Belanda. Dengan demikian posisinya menjadi
penting meskipun ke depannya akan kalah dengan popularitas Nyai Dasimah dan Student
Hidjo.[16]
Novel lain yang
diterbitkan balai pustaka adalah novel Siti
Nurbaya karya Marah Rusli (1922) menampilkan tokoh Datuk maringgih yang
busuk dalam segala hal, kemudian mendadak menjadi kepala pemberontak yang
menentang perpajakan. Ia kemudian mati di tangan Samsul Bahri (Letnan Mas) yang
sudah menjadi kaki tangan Belanda.
Salah
Asuhan karya Abdul Mois (1928),
Pengarang dalam novelnya menggambarkan kejadian dengan lebih realistis dan
tidak lagi menaruh perhatian pada kawin paksa, melainkan pertentangan paham
antara kaum muda dengan kaum kolot dalam soal pernikahan.[17] Konon
katanya dalam naskah asli yang ditulis penulis, Corrie du Besse adalah
perempuan Indo-Belanda yang kemudian mati karena penyakit kelamin. Namun
dilakukan perubahan agar tidak merendahkan derajat orang Belanda.[18]
Karya-karya di atas
merupakan karya sastra yang diterbitkan Balai Pustaka. Sedangkan karya yang
ditulis oleh para pemimpin pergerakan disebut oleh negara kolonial sebagai “bacaan
liar”. Bacaan liar biasanya berbentuk surat kabar, novel, buku, syair, sampai
teks lagu. Bacaan liar digunakan oleh kaum pergerakan sebagai alat penyampaian
pesan dari orang-orang atau organisasi-organisasi pergerakkan kepada kaum
kromo. Kaum kromo adalah istilah yang dipakai untuk kaum buruh dan kaum petani
yang tak bertanah. Tujuan dari pesan-pesan yang disampaikan adalah untuk
mengajak rakyat/kaum kromo melawan penjajahan.[19]
Penulis bacaan liar yang
pada masa itu terbilang produktif adalah Mas Marco Kartodikromo. Mas Marco
merupakan seorang wartawan yang
berkali-kali dijatuhi hukuman oleh pemerintahan Belanda karena
tulisan-tulisannya dan akhirnya meninggal dalam pembuangan di Digul-Atas, Irian
Barat. Selain itu juga ada Semaun dengan Hikajat
Kadiroen pada 1924 yang karyanya dilarang beredar oleh pemerintah. Semaun
pada saat itu merupakan seorang Pemimpin Partai Komunis Indonesia.[20] Adapun,
karya yang muncul pada periode ini selain yang telah disebutkan diantaranya:
1.
Roman Hikayat Siti Mariah karya H. Moekti,
2.
Roman Busono dan Nyai Permana
karya Raden Mas (Djokonomo) Tirto Adhisurjo.
3.
Roman Mata Gelap, Studen Hijau, dan
Rasa Merdeka karya Mas Marco Kartodikromo.
4.
Roman Nyai Dasima karya G. Francis,
5.
Roman Si Jamin dan Si Joan (saduran dari Jan James karya J. van Maurik),
6.
Azab dan Sengsara Seorang Anak Gadis karya
Merari Siregar.
7.
Roman Muda Teruna karya Muhammad Kasim
8.
Roman Darah Muda dan Asmara Jaya
karya Adinegoro.
9.
Roman Karam dalam Gelombang Percintaan karya Kedjora.
10.
Roman Pertemuan karya Abas Soetan Pamoentjak.
11.
Roman Apalah Dayaku karena Aku Perempuan, Salah Pilih, Karena Mertua
karya Nur Sutan Iskandar.
12.
Roman Cinta Membawa Maut karya Abd. Ager.
13.
Roman Jeumpa Aceh karya H.M. Zaidnuddin.
14.
Roman Tak Disangka karya Tulis Sutan Sati.
15.
Roman Tak Putus Dirundung Malang, Dian yang Tak Kunjung Padam karya Sutan
Takdir Alisjahbana.
16.
Roman Pertemuan Jodoh, Surapati, Robert Anak Surapati karya Abdul Muis.
17.
Roman Kasih Tak Terlarai, Percobaan Setia, Mencahari Pencuri Anak Perawan
karya Suman Hasibuan.
18.
Roman Nasib karya Habib St. Maharadja.
19.
Roman Kintamani karya Iman Supardi.
b.
Periode 1933 – 1942
Pada periode 30-an, karya
yang banyak ditulis adalah cerita yang beraliran romantik, menggunakan watak
bulat dan mempersoalkan masalah kehidupan masyarakat kota seperti emansipasi, pemilihan
pekerjaan, diwarnai idealisme, dan cita-cita kebangasaan, serta bersifat
didaktis.[21] Pengarang yamg termasuk
pada periode ini adalah Sultan Takdir Alisjahbana dengan novelnya yang berjudul
Layar Terkembang. Layar Terkembang merupakan novel popular
yang masih terus dibaca sampai sekarang.
Salah satu karya STA yang penting
adalah novel Layar Terkembang. Novel yang dianggap mencerminkan cita-cita STA ini
diterbitkan Balai Pustaka untuk pertama kalinya pada tahun 1926 dan pada tahun
1984 mengalami cetak ulang kelima belas kalinya. Pada tahun 1963 novel ini
terbit di Kuala Lumpur dengan edisi bahasa Melayu.[22]
Layar
Terkembang menceritakan
tentang seorang tokoh bernama Tuti yang memiliki pendirian tangguh, aktivis
pergerakkan dan persamaan wanita serta aktif dalam berbagai kegiatan organisasi
wanita. Ia merupakan ketua organisasi wanita Putri Sedar cabang Jakarta. STA
melalui tokoh Tuti menyampaikan pendapat-pendapat dan pandangan-pandangannya
tentang peranan wanita dan kaum muda dalam membangun bangsa.[23] STA
melukiskan tokoh dengan watak yang kuat serta alur dan konflik yang
berkualitas. Tokoh dalam cerita digunakan STA sebagai sumber pembelajaran bagi
pembaca untuk dapat mengubah peraturan yang membelenggu sesuai dengan zamannya.
Dengan kata lain, Layar Terkembang bertemakan pemberontakan perempuan terhadap
adat yang membelenggunya untuk mengembangkan diri.[24]
Pada periode ini,
meskipun jumlah novel dan pembaca tidak banyak, akan tetap bertahan dari waktu
ke waktu. Misalnya, polemik Takdir alisjahbana, Armijn Pane, Sanusi Pane, dan
Tatengkeng yang hingga kini masih cukup relevan untun disimak karena terasa
belum juga ketinggalan zaman.[25]
Adapun,
karya lainnya yang muncul pada periode ini antara lain:
1.
Roman Anak Perawan di Sarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisjahbana.
2.
Roman Belenggu karya Armijn
Pane.
3. Roman Di Bawah Lindungan
Ka’bah, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Karena Fitnah, Tuan Direktur,
Merantau ke Deli karya Hamka.
4. Roman Hulungbalang Raja, Katak
Hendak Jadi Lembu, Neraka Dunia, Dewi Rimba, Menembus Dosa, Si Cebol Rindukan
Bulan karya Nur Sutan Iskandar.
5.
Roman Ni Rawit Ceti Penjual
Orang, Gadis Bali, Dewi Karuna karya I Gusti Njoman Pandji Tisna.
6.
Roman Sengsara Membawa Nikmat
karya Tulis Sutan Sati.
7.
Roman Tebusan Darah karya Suman
Hasibuan.
8.
Roman Pembalasan, Karena
Kerendahan Budi karya H.S.D. Muntu.
9.
Roman Andang Teruna karya
Soetomo Djauhar Arifin.
10.
Roman Zaman Gemilang karya
Hasbullah Parinduri.
c.
Periode 1942 – 1945
Indonesia pada masa ini
sedang berada di bawah jajahan Jepang. Keberadaan Jepang di Indonesia selain
mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, juga mempengaruhi karya sastra
yang diproduksi pada masa ini. Karya yang muncul pada periode ini ditandai
dengan banyaknya karya propoganda dan sarat dengan politik Jepang. Pengarang
yang menerbitkan novel propoganda adalah Karim Halim yang menulis novel
berjudul Palawijaya.[26]
Karim Halim melalui
cerita Palawijaya mencoba mengenalkan
pembaharuan masyarakat antara pribumi dan Tionghoa pada zaman kependudukan
Jepang. Novel yang berlatar tempat di kota Rengasdengklok, sebuah kota kecil di
sebelah timur Jakarta. Novel ini mengisahkan tentang percintaan antara laki-laki
pribumi Soemardi dengan perempuan Tionghoa Soei Nio. Pernikahan mereka
mepererat hubungan masyarakat pribumi dan Tionghoa. Soemardi akhirnya di angkat
sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah mewakili Rengasdengklok, sedang
istrinya di angkat sebagai pengawas Gerakan Putri Indonesia dan Tionghoa. Lalu,
ketika ada kesempatan menjadi tentara. Soemardi mendaftarkan diri menjadi
tentara Pembela Tanah Air, dan istrinya juga turut ambil bagian membela negara
dari garis belakang.[27]
Rosida mengatakan dalam bukunya.
Pengarang yang menerbitkan novel
propaganda lainnya adalah Nur Sutan Iskandar berjudul Cinta Tanah Air (1944)
dan cerita pendek “Putri Pahlawan Indonesia”. Karim Halim menerbitkan novel
Palawija, ia juga pernah menyadur tonil karangan Henrik Ibsen berjudul de
Kleine Eylof menjadi Djeritan Hidoep Baroe. Semasa Jepang ia menulis cerpen
propaganda, salah satu cerita pendeknya berjudul “Aroes Mengalir”.[28]
Novel lainnya adalah Cinta Tanah Air pada tahum 1944 karya
Nur Sultan Iskandar. Novel ini, selain menelaan soal percintaan juga
menggambarkan masyarakat Indonesia pada awal permulaan kedatangan bangsa
Jepang. Kehadiran Jepang membawa angin segar bagi putra-putri Indonesia yang
telah sekian lama dijajah Belanda. Setidaknya mereka menjadikan Jepang sebagai
contoh keberhasilan peperangan melawan Amerika dan bangsa Eropa. Hal itu
menumbuhkan motivasi sendiri bagi anak negeri seperti Amiruddin unuk maju ke
garis depan penempatan membela tanah air dengan menjadi anggota PETA, walaupun
dia harus meninggalkan Ibu, Adik, beserta Asdah yang baru dinikahinya.
Sedangkan Hardjono, temannya waktu sekolah tidak jadi ikut anggota PETA karena
istrinya mengancam untuk tidak kembali kepadanya jika Hardjono masuk anggota
PETA.[29]
Gambaran yang ditampilkan
pada kedua novel tersebut tidak utuh dan tidak menampilkan keadaan yang
sebenarnya. Kondisi sosial dan politik di Indonesia yang ditampilkan dalam
kedua novel tersebut bertolak belakang. Semua aspek politik dan sosial dalam
kedua novel tersebut benar-benar ideal menurut ukuran pemerintahan jepang.
Masyarakat Indonesia dalam kedua novel digambarkan tidak mengalami penderitaan
akibat kedatangan tentara Jepang dan segala sesuatu yang buruk pada saat itu
dikatakan sebagai akibat dari penjajahan Belanda. Dalam kedua novel tersebut,
segala yang berkaitan dengan jepang adalah baik dan segala yang berkaitan
dengan Barat, Belanda dan Sekutu berarti buruk. Rosida dalam buku Sejarah
Sastra Indonesia megatakan.
Pengarang kedua novel tersebut
telalu tendensius, berat sebalah dan hanya melihat dengan kaca mata idealis segala
peraturan yang diadakan oleh jepang, dengan tidak mengemukakan penerimaan jiwa
yang sebenar-benarnya dari pihak Indonesia yang juga mengenal pengharapan,
kecemasan, kekecewaan, curiga, hati berontak dan sebadainya. Kedua novel
tersebut menurut Ajip Rosidi adalah roman propoganda yang tak bernilai sastra.[30]
Berdasarkan kutipan di
atas, penulis menyimpulkan bahwa pada periode ini karya-karya yang diterbitkan
berisi hal-hal yang hanya mengunggulkan Jepang, mengagung-agungkan Jepang, dan
memposisikan Jepang sebagai pihak yang begitu baik yang tentu saja berbanding
terbalik dengan kenyataan yang ada.
d.
Periode 1945 – 1961
Selepas Indonesia merdeka banyak perubahan terjadi, salah satunya
adalah penciptaan karya sastra yang bebas dan merdeka yang sebelumnya
terkekang. Berkat kebebasan tersebut, berbagai pemikiran dan penciptaan karya
sastra semakin marak. Pada periode ini, novel yang menjadi bahan perbincangan
adalah novel Atheis karya Achdiat Kartamiharja.
Atheis adalah novel yang melukiskan kehidupan dan kemelut manusia
Indonesia dalam menghadapi berbagai pengaruh dan tantangan zaman. Tokoh
utamanya bernama Hasan, yang kesadaran agamanya mudah sekali terombang-ambing.
Apalagi setelah ia bertemu dengan Rusli yang semakin mengguncangkan imannya.
Gaya sinis ironis menjadi ekspresi kehidupan batin pada masa ini
mewarnai karya sastra yang hadir. Tokoh bernama Hasan dalam Atheis
merupakan sosok yang dibesarkan ditengah kehidupan penuh dengan lingkungan tradisi
untuk kemudian hidup di kota setelah dewasa. Agaknya tragedi yang dialami Hasan
dalam Atheis tersebut adalah tragedi yang dialami oleh orang-orang yang
hidup dalam masa transisi. Masalahnya dekat dengan kita, realistis dan human,
karena agaknya Hasan itu adalah kita-kita ini, meskipun dengan akhir atau hasil
yang tidak sejelek nasib Hasan.[31]
Pada periode ini, karya yang muncul antara lain:
1.
Perempuan dan Kebangsaan karya Idrus.
2.
Lingkaran-lingkaran Retak karya M.
Balfas.
3.
Yang Terempas dan Yang Terkandas karya
Rusman Sutiasumarga.
4.
Keluarga Surono karya Idrus.
5.
Sedih dan Gembira karya Usmar Ismail.
e.
Periode 1961 – 1971
Pada periode ini, masih mengangkat masalah
mengenai kemasyarakatan yang masih hangat dengan suasana kemerdekaan. Dengan
berlandaskan pada kebudayaan dan kebiasaan masyarakat pada masanya. Karena beragamnya
corak dan genre yang bermunculan, pada akhirnya pengelompokkan sesuai dengan
ide penulis mulai dirajut pada masa ini. Ada yang beride keislaman (Lesbumi),
Ide kenasionalisasian (Lesbumi), ide rakyat (Lekra), dan ada yang bebas
mengabdi kemanusiaan.
Karya
yang muncul pada periode ini, antara lain:
1. Sang Ayah, Manusia Tanah
Air karya Bur Rasuanto.
2. Hilangnya Si Anak Hilang,
Helai-helai Sakuran Gugur, Gairah untuk Hidup dan untuk Mati, Malam Kualalumpur karya Nasjah Djamin.
3. Menyusuri Jejak Berdarah karya H.M. Jusa Birah.
4. Kemarau karya A.A. Navis.
5. Pulang, Daerah Tak Bertuan,
Bukan Karena Kau, Kabut Rendah karya Toha Mohtar.
f.
Periode 1971 – 1998
Adanya pembaharuan dalam
berbagai genre yang muncul menandai periode ini yaitu pada dekade 70-an.
Kesusasteraan Indonesia menempati tahap pematangan dengan munculnya
bentuk-bentuk sastra baru. Karya populer mulai marak-maraknya pada periode ini.
Sebenarnya kehadiran novel-novel popular sudah ada sejak awal perkembangan
kesusasteraan Indonesia. Awal kehadiran novel-novel popular di Indonesia muncul
sejak didirikannya Balai Pustaka.[32]
Sebutan untuk novel-novel
popular atau novel pop mulai merebak sesudah suksesnya novel Karmila, Badai Pasti Berlalu (Marga T) dan Cintaku Siregar pada tahun 70-an, juga novel-novel semacam Cewek Komersil, Gita Cinta dari SMA, dan Musim
Bercinta (Eddy D. Iskandar), serta serial novel Lupus (Hilman Hariwijaya) yang popular pada tahun 80-an. Sesudah
itu, novel-novel hiburan tidak peduli mutunya disebut juga ‘novel pop’.
Kata pop erat diasosiasikan dengan kata popular,
mungkin karena novel-novel ini sengaja ditulis untuk ‘selera popular’ yang
kemudian dikemas dan dijajakan sebagai suatu ‘barang dagangan popular’. Dan
jadilah istilah ‘pop’ ini sebagai istilah baru dalam dunia.[33]
Berkenaan dengan novel
popular, jacob Sumardjo menulis pengamatannya dalam buku Novel Popular
Indonesia (1982). Menurutnya pada masa ditandai dengan banyaknya penulis
perempuan. Bukan hanya jumlah mereka yang banyak, tetapi juga karya mereka yang
terus mengalir sehingga begitu melimpah novel yang ditulis perempuan. Tema yang
ditulis umumnya masih berkisar kisah cinta yang serba manis. Namun beberapa
pengarang lelaki seperti Ashadi Siregar, Teguh Esha, Remy Silado, Yudhistira
Adinugraha, dan eddy D. Iskandar mencoba memasukka protes sosial dalam
novelnya. Novel-novel pada masa itu meletakkan dasar bagi novel-novel popular
yang berbobot, sehingga ada peningkatan kualitas dari dekade sebelumnya.[34]
Produksi novel popular
pada periode ini sangat luar biasa karena banyak digandrungi para remaja. Pada
masa itu telah terbit 500 judul novel popular yang dikarang oleh beberapa
pengarang yang juga sangat luar biasa produktifnya. Produktivitas yang luar
biasa mengakibatkan banyak orang meragukan mutu terhadap novel-novel tersebut.
Oleh karena itu muncul berbagai kajian terhadap jenis novel yang melua di
berbagai kampus, selain menjadi mata kuliah yang semakin banyak peminatnya.[35]
Karya yang bisa dianggap populer pada periode ini adalah novel Pada Sebuah Kapal karya N.H Dini, Ziarah karya Iwan Simatupang, dan
lain-lain.
g.
Periode 1998 – sekarang
Pada
periode ini, novel yang banyak
ditulis bertemakan sosial-politik khususnya seputar reformasi. Kesusasteraan Indonesia ditandai dengan
munculnya berbagai pengarang perempuan. Tema-tema yang dieksplorasi adalah
masalah seks bersanding tema-tema islami yang banyak ditulis pengarang islam
yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP).[36]
Penulis
pada periode ini antara lain, Ayu Utami Saman,
Seno Gumira Adji Darma Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola Tak Berdawai, Seno Gumira Adji
Darma Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola Tak Berdawai, Dewi Lestari Supernova (2001), Habiurrahman el Shirazy Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih 1
dan 2, Dalam Mihrab Cinta, Andrea
Hirata Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Oka Rusmini novel Tarian Bumi
(2000), Djenar Mahesa Ayu dengan karyanya Nayla
(2005). Sedangkan penulis yang menghadirkan tema-tema islami misalnya, Helvy
Tiana Rosa dan Asma Nadia.
Pada permulaan abad 21
kemudian muncul istilah baru, yaitu novel teenlit.
Terdapat persamaan antara novel teenlit
dengan novel popular, yaitu sama-sama memegang predikat popular dikalangan
masyarakat khususnya kepada para remaja usia belasan. Sesuai dengan namanya,
pembaca utama novel teenlit adalah para remaja terutama remaja perempuan di
perkotaan. Novel teenlit yang mulai
popular pada awal tahun 2000-an tampaknya mulai menggantikan tempat novel
popular untuk menjadi status popular di masyarakat walaupun itu bukan berarti
novel popular telah hilang sama sekali.
Novel teenlit amat digemari kaum remaja putri,
hal ini terjadi karena kaum remaja putri haus akan bacaan yang sesuai dengan
kondisi kejiwaan mereka. Para remaja merasakan bahwa cerita novel teenlit dapat
mewakili dan atau mencerminkan diri, dunia, cita-cita, keinginan, gaya hidup,
gaya gaul, dan lain-lain yang menyangkut permasalahan mereka. Popularitas
novel-novel teenlit antara lain dapat
dilihat dari tingginya penjualan. Dalam kurang lebih 15 bulan saja, Penerbit
Gramedia berhasil menjual sekitar 520 ribu eksemplar dari 34 judul novel teenlit yang diterbitkannya.[37] Burhan Nurgiyantoro berpendapat bahwa:
Istilah ‘teenlit’ terbentuk dari kata ‘teenager’
dan ‘literature’. Kata ‘teenager’ terbentuk dari kata ‘teens’, ‘age’, dan akhiran ‘er’
yang secara istilah berarti ‘menunjuk pada anak usia belasan tahun’.[38]
Kelompok teenager
dimulai dari usia remaja awal sampai akhir belasan yaitu sekitar usia 13-19
tahun. Sedangkan ‘literature’ berarti
‘kesastaraan’ bacaan. Jadi, istilah ‘teenlit’ tampaknya menunjuk pada
pengertian bacaan cerita yang ditulis untuk konsumsi remaja usia belasan tahun.
Remaja pada usia belasan adalah mereka mengalami dan berada pada critical period ‘masa kritis’, masa
pubertas, masa untuk menemukan identitas diri atau jati diri. Mereka amat
intens menjalin pertemanan dengan sebaya yang sekaligus dijadikan ajang untuk
saling menemukan identitas diri dan saling curhat.
Salah satu karakteristik
novel teenlit adalah bahwa mereka
selalu berkisah tentang remaja, baik yang menyangkut tokoh-tokoh utama maupun
permasalahannya, para tokoh remaja itu hadir lengkap dengan karakter dan
masalahnya baik pertemanan, kisah cinta, putus nyambung cinta, impian,
khayalan, cita-cita, konflik, dan lain-lain yang kesemuanya merupakan romantika
dunia remaja. Tokoh utama cerita yang pada umumnya perempuan adalah tokoh yang
biasanya dijadikan idola, tokoh yang berkarakter khas remaja, tokoh yang dapat
dijadikan ajang pencarian identitas diri dan kelompok.
Teenlit pada umumnya mengangkat tokoh remaja
perempuan yang kuat, tidak cengeng, mandiri, dan tidak mudah terombang-ambing
atau terlecehkan dalam pergaulan baik dalam hal percintaan maupun persaingan
meraih prestasi dengan remaja laki-laki. Maka tidak heran jika pembaca remaja
umumnya senang dan hanyut secara emosional seolah-olah dirinya adalah bagian
dari cerita tersebut. Seolah-olah dirinya adalah bagian dari tokoh-tokoh
cerita. Novel teenlit juga memiliki
karakteristik popular, sebagaimana yang telah dikemukanan sebelumnya. Novel ini
ditulis untuk memenuhi selera pembaca remaja tentang dunianya. Teenlit tidak berkisah tentang sesuatu
yang berat, mendalam, dan serius terhadap permasalahan dalam cerita karena akan
menjadi berat dan menyebabkan pembaca remaja menjadi malas membaca karena
merasa bukan lagi dunianya. [39]
Novel-novel teenlit dapat berkisah tentang dunia
remaja menggunakan bahasa gaul yang sangat khas remaja. Terdapat banyak novel teenlit yang beredar di toko-toko buku
bahkan sebagian juga dapat dibuka dan diunduh di internet. Misalnya, Dylan
Nuranindya (18 tahun) yang menulis Dea
Lova pada tahun 2004 dan langsung meledak dan dicetak ulang dalam waktu
hanya dua minggu. Maria Ardelia (16 tahun) menulis Me vs High Heels! Aku vs Sepatu Hak Tinggi! pada tahun 2004, Laire
Siwi Mentari (16 tahun) menulis Nothing
But Love Semata Cinta pada tahun 2004 dan Aphrodite pada tahun 2005 yang ketika itu sudah berusia 17 tahun,
dan Gisantia Bestari (13 tahun) yang menulis Cinta Adisty pada 2004 dan Backstreet
pada 2005 yang ketika itu sudah berusia 14 tahun. Di samping itu, ada juga
penulis teenlit yang sudah tidak
beruasia teen, misalnya Esti Kinansih
(33 tahun) yang menulis Fairish pada
tahun 2009.
Selain itu ada pula
sejumlah novel teenlit terjemahan.
Misalnya E Love (Caroline Plaisted)
yang diterjemahkan menjadi Kisah Cinta
Pertama Lewat Internet, Teen Idol
(Meg Cabot) menjadi Idola Remaja, The Boy of My Dreams (Dyan Sheldon)
menjadi Idola Idaman, dan Looking for Alibrandi (Melina Marchetta)
menjadi Mencari Jati Diri. Namun
tampaknya jumlah teenlit terjemahan
tidak sebanyak karya asli penulis Indonesia.
Fakta fenomenal adalah
bahwa novel-novel teenlit meledak di
pasaran dengan pembaca utama remaja (perempuan) yang menunjukkan bahwa minat
baca remaja Indonesia tidak terlalu rendah. Hal ini menunjukkan bahwa jika
bacaan itu sesuai dengan selera remajanya mereka akan gemar membaca. Harus pula
dicatat bahwa novel Harry Potter yang
meledak di dunia juga meledak di Indonesia dengan bukti mengalami sekian kali
cetak ulang. Hal tersebut semakin menguatkan bahwa jika novel-novel itu bagus,
terutama menyangkut cerita dan penggunaan bahasanya maka akan dibaca oleh
pembaca Indonesia.[40]
[3]
Rosida Erowati
dan Ahmad Bahtiar, Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah,
2011), hlm. 3
[5]
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada
Universty Press, 2013), hlm. 11
[40] Ibid.,
hlm 28

Komentar
Posting Komentar